Jurus yang Menyehatkan

Mustofa, 36 tahun, tidak pernah menyangka keajaiban akan datang kepadanya. Sepanjang hidup dia tenggelam dalam kegelapan yang tak berujung. Kedua bola matanya tidak bisa melihat. “Saya buta sejak berumur satu tahun,” kata Mustofa, Kamis pekan silam.Seperti tunanetra lainnya, mulanya Mustofa tidak bisa berjalan tanpa tongkat.

Namun, masa itu telah lewat. Sejak 1990, ia sudah berpisah dari tongkatnya.

Ia tak cuma bisa berjalan, tapi juga dapat mengendarai sepeda motor dan menyetir mobil. Semua itu dilakukannya tanpa bantuan orang lain. Ini bukan keajaiban sihir seperti yang pernah dipertontonkan mentalis ternama.

Kemampuan ini didapatnya setelah dia belajar di Merpati Putih. Perguruan itu tak hanya mengajarkan bela diri, tapi juga mengembangkan terapi kesehatan. Pendiri Merpati Putih, Poerwoto Hadi Poernomo, mengatakan bahwa pada mulanya terapi hanya dikembangkan untuk korban narkotik dan obat berbahaya.

“Saya nggak tahu bahwa murid saya banyak yang bekas pengguna narkoba. Setelah ikut Merpati Putih, ternyata mereka bisa sembuh,” kata Poerwoto, 63 tahun.

Selain menyembuhkan korban narkoba, perguruan silat ini mengembangkan kepekaan pengindraan pada tunanetra. Seperti Mustofa, para tunanetra diharapkan bisa berjalan sendiri tanpa bantuan apa pun.

“Kami berusaha agar mereka bisa pergi ke mana pun tanpa tongkat atau dibantu orang lain,” tutur Poerwoto, yang akrab disapa Mas Pung.

Metodenya adalah mengasah kemampuan untuk merasakan getaran dan kepekaan sang murid. Setelah berlatih sekitar satu tahun, murid tunanetra itu sudah bisa berjalan seperti layaknya orang normal.

Mas Pung mengatakan terapi yang dilakukan perguruannya hanya mengandalkan kemampuan olah napas yang dikombinasikan dengan penyaluran tenaga dalam.

Menurut Ketua Cabang Merpati Putih Jakarta Selatan, Husinsjah, Merpati Putih bersumber pada kekuatan alam, yaitu air, tanah, udara, dan api. Dalam terapi diusahakan untuk menggunakan salah satu dari keempat media itu.

Sumber : koran tempo on the web

%d blogger menyukai ini: