Merpati putih semoga makin jaya

Setelah melakukan sikap hormat pada dewan guru, ia berlari kecil
menghampiri 12 balok es yang disusun di lapangan itu. susunan balok es
itu tinggi sekali. Hampir dua kali lipat tinggi badannya. Kedua ujung
balok es dijepit dua batang kayu untuk penahannya. Jarak balok es
pertama dari tanah kira-kira satu meter, masing-masing ujungnya ditahan
dengan balok kayu yang sudah didisain sedemikian rupa agar kuat menahan
tekanan 12 balok tersebut.

Perlahan dan mantab, ia menaiki dua susun meja yang berada di belakang
12 balok es tersebut. Kini susunan balok es tertinggi hanya
sepinggangnya.

Sejenak ia berdoa memohon keselamatan atas atraksi yang akan dilakukannya.

Selesai berdoa, segera ia memasang kuda-kuda rendah. Kedua kakinya
membentang rendah. Kokoh menopang tubuhnya yang tegak simetris di
antara kedua kaki itu.

Perlahan ia mencari posisi tangan yang enak untuk dapat menghantam ke
12 balok es itu. ia akan menghantam dengan pukulan ujung siku.

Penuh konsentrasi, ia menghembuskan nafas melalui mulut dengan perlahan. Suara desis nafas yang keluar dari mulut terdengar.

“cesssssssssssss…”

Berbarengan dengan desis nafas, seluruh badannya mengejang keras.
Telapak tangan kanannya mengepal keras. Seluruh lengan kanannya
mengejang keras sekali. Telapak tangan kirinya membalut kepalan tangan
kanannya yang mengeras. Perlahan sekali ia memutar kepalan tangan
kanannya. Seluruh badannya semakin mengejang keras. Keras. Keras…
semakin keras…

Saat udara yang dikeluarkan melalui mulutnya sudah tak ada lagi, cepat
ia menarik nafas melalui hidung. Berbarengan dengan tarikan nafas,
kedua tangannya ditariknya ke atas. Sepersekian detik ia menyimpan
tarikan nafasnya di dada, saat itu pula tangannya menghantam susunan 12
balok es utuh di depannya…

“Blaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr…”

12 balok es itu runtuh berderak. Suara runtuhnya menggetarkan hati
orang yang menontonnya. 12 balok es itu masing-masing patah terbelah
dua.

“cesssssssssssssssssss…”

Terdengar desis nafas panjang dan keras keluar melalui lubang mulutnya.

Gemuruh tepukan tangan membanjiri lapangan itu. Semua penonton
tercekat, terpana, terkagum-kagum dengan atraksi itu. Tanpa dikomando,
mereka menghadiahinya dengan tepuk tangan panjang.

Hari itu sebuah perguruan silat Indonesia sedang mendemonstrasikan beberapa kemampuan yang didapat dari hasil latihan.

Perguruan silat itu bernama: MERPATI PUTIH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: